Tampilkan postingan dengan label Uswah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uswah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2010

Kejujuran Seorang Mubarok

Dikisahkan dari Mubarok -ayahanda dari Abdulloh Ibnu al-Mubarok- bahwasanya ia pernah bekerja di sebuah kebun milik seorang majikan. Ia tinggal di sana beberapa lama. Kemudian suatu ketika majikannya -yaitu pemilik kebun tadi yang juga salah seorang saudagar dari Hamdzan- datang kepadanya dan mengatakan, “Hai Mubarok, aku ingin satu buah delima yang manis.”

Mubarok pun bergegas menuju salah satu pohon dan mengambilkan delima darinya. Majikan tadi lantas memecahnya, ternyata ia mendapati rasanya masih asam. Ia pun marah kepada Mubarok sambil mengatakan, “Aku minta yang manis malah kau beri yang masih asam! Cepat ambilkan yang manis!”

Ia pun beranjak dan memetiknya dari pohon yang lain. Setelah dipecah oleh sang majikan; sama, ia mendapati rasanya masih asam. Kontan, majikannya semakin naik pitam. Ia melakukan hal yang sama untuk ketiga kalinya, majikannya mencicipinya lagi. Ternyata, masih juga yang asam rasanya. Setelah itu, majikannya bertanya, “Kamu ini apa tidak tahu; mana yang manis mana yang asam?”
Mubarok menjawab. “Tidak.”
“Bagaimana bisa seperti itu?”
“Sebab aku tidak pernah makan buah dari kebun ini sampai aku benar-benar mengetahui (kehalalan)nya.”
“Kenapa engkau tidak mau memakannya?” tanya majikannya lagi.
“Karena anda belum mengijinkan aku untuk makan dari kebun ini.” Jawab Mubarok. Pemilik kebun tadi menjadi terheran-heran dengan jawabannya itu ..
Tatkala ia tahu akan kejujuran budaknya ini, Mubarok menjadi besar dalam pandangan matanya, dan bertambah pula nilai orang ini di sisi dia. Kebetulan majikan tadi mempunyai seorang anak perempuan yang banyak dilamar oleh orang. Ia mengatakan, “Wahai Mubarok, menurutmu siapa yang pantas memperistri putriku ini?”
“Dulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri-putri mereka lantaran keturunan. Orang Yahudi menikahkan karena harta, sementara orang Nashrani menikahkan karena keelokan paras. Dan umat ini menikahkan karena agama.” Jawab Mubarok.
Sang majikan kembali dibuat takjub dengan pemikirannya ini. Akhirnya majikan tadi pergi dan memberitahu isterinya, katanya, “Menurutku, tidak ada yang lebih pantas untuk putri kita ini selain Mubarok.”
Mubarok pun kemudian menikahinya dan mertuanya memberinya harta yang cukup melimpah. Di kemudian hari, isteri Mubarok ini melahirkan Abdullah bin al-Mubarok; seorang alim, pakar hadits, zuhud sekaligus mujahid. Yang merupakan hasil pernikahan terbaik dari pasangan orang tua kala itu. Sampai-sampai Al-Fudhoil bin ‘Iyadh Rohimahullah mengatakan -seraya bersumpah dalam perkataannya-, “Demi pemilik Ka’bah, kedua mataku belum pernah melihat orang yang semisal dengan Ibnu al-Mubarok.
Hari ini, kecurangan dan penipuan sudah semakin banyak terjadi dalam kehidupan sebagian orang. Sangat jarang kita temukan orang jujur lagi dipercaya dalam menunaikan amanah serta yang jauh dari sifat curang dan penipu.
Kalau akibat dari sebuah, perbuatan maksiat itu sudah maklum dan pasti di akhirat kelak, maka tempat kembalinya ketika di dunia lebih dekat lagi.

Minggu, 14 Maret 2010

Jangan Halangi Aku Membela Rasulullah

Hari itu Nasibah tengah berada di dapur. Suaminya, Said tengah beristirahat di kamar tidur. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh bagaikan gunung-gunung batu yang runtuh. Nasibah menebak, itu pasti tentara musuh. Memang, beberapa hari ini ketegangan memuncak di sekitar Gunung Uhud.

Dengan bergegas, Nasibah meninggalkan apa yang tengah dikerjakannya dan masuk ke kamar. Suaminya yang tengah tertidur dengan halus dan lembut dibangunkannya. “Suamiku tersayang,” Nasibah berkata, “aku mendengar suara aneh menuju Uhud. Barang kali orang-orang kafir telah menyerang.”

Said yang masih belum sadar sepenuhnya, tersentak. Ia menyesal mengapa bukan ia yang mendengar suara itu. Malah istrinya. Segera saja ia bangkit dan mengenakan pakaian perangnya. Sewaktu ia menyiapkan kuda, Nasibah menghampiri. Ia menyodorkan sebilah pedang kepada Said.

“Suamiku, bawalah pedang ini. Jangan pulang sebelum menang….”

Said memandang wajah istrinya. Setelah mendengar perkataannya seperti itu, tak pernah ada keraguan baginya untuk pergi ke medan perang. Dengan sigap dinaikinya kuda itu, lalu terdengarlah derap suara langkah kuda menuju utara. Said langsung terjun ke tengah medan pertempuran yang sedang berkecamuk. Di satu sudut yang lain, Rasulullah melihatnya dan tersenyum kepadanya. Senyum yang tulus itu makin mengobarkan keberanian Said saja.

Di rumah, Nasibah duduk dengan gelisah. Kedua anaknya, Amar yang baru berusia 15 tahun dan Saad yang dua tahun lebih muda, memperhatikan ibunya dengan pandangan cemas. Ketika itulah tiba-tiba muncul seorang pengendara kuda yang nampaknya sangat gugup.

“Ibu, salam dari Rasulullah,” berkata si penunggang kuda, “Suami Ibu, Said baru saja gugur di medan perang. Beliau syahid…”

Nasibah tertunduk sebentar, “Inna lillah…..” gumamnya, “Suamiku telah menang perang. Terima kasih, ya Allah.”

Setelah pemberi kabar itu meninggalkan tempat itu, Nasibah memanggil Amar. Ia tersenyum kepadanya di tengah tangis yang tertahan, “Amar, kaulihat Ibu menangis? Ini bukan air mata sedih mendengar ayahmu telah syahid. Aku sedih karena tidak punya apa-apa lagi untuk diberikan pagi para pejuang Nabi. Maukah engkau melihat ibumu bahagia?”

Amar mengangguk. Hatinya berdebar-debar.
“Ambilah kuda di kandang dan bawalah tombak. Bertempurlah bersama Nabi hingga kaum kafir terbasmi.”

Mata amar bersinar-sinar. “Terima kasih, Ibu. Inilah yang aku tunggu sejak dari tadi. Aku was-was seandainya Ibu tidak memberi kesempatan kepadaku untuk membela agama Allah.”

Putra Nasibah yang berbadan kurus itu pun segera menderapkan kudanya mengikut jejak sang ayah. Tidak tampak ketakutan sedikitpun dalam wajahnya. Di depan Rasulullah, ia memperkenalkan diri. “Ya Rasulullah, aku Amar bin Said. Aku datang untuk menggantikan ayah yang telah gugur.”
Rasul dengan terharu memeluk anak muda itu. “Engkau adalah pemuda Islam yang sejati, Amar. Allah memberkatimu….”

Hari itu pertempuran berlalu cepat. Pertumpahan darah berlangsung sampai sore. Pagi-pagi seorang utusan pasukan islam berangkat dari perkemahan mereka meunuju ke rumah Nasibah. Setibanya di sana, perempuan yang tabah itu sedang termangu-mangu menunggu berita, “Ada kabar apakah gerangan kiranya?” serunya gemetar ketika sang utusan belum lagi membuka suaranya, “apakah anakku gugur?”

Utusan itu menunduk sedih, “Betul….”

“Inna lillah….” Nasibah bergumam kecil. Ia menangis.
“Kau berduka, ya Ummu Amar?”
Nasibah menggeleng kecil. “Tidak, aku gembira. Hanya aku sedih, siapa lagi yang akan kuberangkatan? Saad masih kanak-kanak.”

Mendegar itu, Saad yang tengah berada tepat di samping ibunya, menyela, “Ibu, jangan remehkan aku. Jika engkau izinkan, akan aku tunjukkan bahwa Saad adalah putra seorang ayah yang gagah berani.”

Nasibah terperanjat. Ia memandangi putranya. “Kau tidak takut, nak?”
Saad yang sudah meloncat ke atas kudanya menggeleng yakin. Sebuah senyum terhias di wajahnya. Ketika Nasibah dengan besar hati melambaikan tangannya, Saad hilang bersama utusan itu.

Di arena pertempuran, Saad betul-betul menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan banyak nyawa orang kafir. Hingga akhirnya tibalah saat itu, yakni ketika sebilah anak panah menancap di dadanya. Saad tersungkur mencium bumi dan menyerukan, “Allahu akbar!”

Kembali Rasulullah memberangkatkan utusan ke rumah Nasibah. Mendengar berita kematian itu, Nasibah meremang bulu kuduknya. “Hai utusan,” ujarnya, “Kausaksikan sendiri aku sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya masih tersisa diri yang tua ini. Untuk itu izinkanlah aku ikut bersamamu ke medan perang.”

Sang utusan mengerutkan keningnya. “Tapi engkau perempuan, ya Ibu….”
Nasibah tersinggung, “Engkau meremehkan aku karena aku perempuan? Apakah perempuan tidak ingin juga masuk surga melalui jihad?”

Nasibah tidak menunggu jawaban dari utusan tersebut. Ia bergegas saja menghadap Rasulullah dengan kuda yang ada. Tiba di sana, Rasulullah mendengarkan semua perkataan Nasibah. Setelah itu, Rasulullah pun berkata dengan senyum. “Nasibah yang dimuliakan Allah. Belum waktunya perempuan mengangkat senjata. Untuk sementra engkau kumpulkan saja obat-obatan dan rawatlah tentara yang luka-luka. Pahalanya sama dengan yang bertempur.”

Mendengar penjelasan Nabi demikian, Nasibah pun segera menenteng tas obat-obatan dan berangkatlah ke tengah pasukan yang sedang bertempur. Dirawatnya mereka yang luka-luka dengan cermat. Pada suatu saat, ketika ia sedang menunduk memberi minum seorang prajurit muda yang luka-luka, tiba-tiba terciprat darah di rambutnya. Ia menegok. Kepala seorang tentara Islam menggelinding terbabat senjata orang kafir.

Timbul kemarahan Nasibah menyaksikan kekejaman ini. Apalagi waktu dilihatnya Nabi terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak panah musuh, Nasibah tidak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani. Diambilnya pedang prajurit yang rubuh itu. Dinaiki kudanya. Lantas bagai singa betina, ia mengamuk. Musuh banyak yang terbirit-birit menghindarinya. Puluhan jiwa orang kafir pun tumbang. Hingga pada suatu waktu seorang kafir mengendap dari belakang, dan membabat putus lengan kirinya. Ia terjatuh terinjak-injak kuda.

Peperangan terus saja berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga Nasibah teronggok sendirian. Tiba-tiba Ibnu Mas’ud mengendari kudanya, mengawasi kalau-kalau ada korban yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat seonggok tubuh bergerak-gerak dengan payah, segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu. Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Istri Said-kah engkau?”

Nasibah samar-sama memperhatikan penolongnya. Lalu bertanya, “bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah beliau?”

“Beliau tidak kurang suatu apapun…”

“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan? Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku….”
“Engkau masih luka parah, Nasibah….”
“Engkau mau menghalangi aku membela Rasulullah?”

Terpaksa Ibnu Mas’ud menyerahkan kuda dan senjatanya. Dengan susah payah, Nasibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke pertempuran. Banyak musuh yang dijungkirbalikannya. Namun, karena tangannya sudah buntung, akhirnya tak urung juga lehernya terbabat putus. Rubuhlah perempuan itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah yang dicintainya.

Tiba-tiba langit berubah hitam mendung. Padahal tadinya cerah terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak. Rasul kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nasibah, wanita yang perkasa.”


dari Catatan Aniek Yudhiarti....
--------------------

Sejenak Bersama Salman Al-Farisi

Adalah Salman Al-Farisi yang hidup di negeri Persia. Ketika mendengar bahawa di Makkah ada seorang nabi bernama Muhammad yang membawa agama Islam, langsung muncul hasrat untuk mengetahui tentang agama baru itu. Padahal, waktu itu Nabi Muhammad saw. hidup bagai orang asing di tengah-tengah kaum yang mengingkari risalahnya, bahkan memerangi dan menyakitinya. Tetapi semua ini tidak menyurutkan niat Salman. la bersegera menuju Makkah dan terus menyu-suri jalan guna mencari tahu mengenai nabi baru ltu.

Sesampainya di Makkah, ia menuju Baitul Haram untuk mencari penginapan hingga mendekatkannya mencapai tujuan. Sudan menjadi tradisi penduduk Makkah,—kerana kedermawanannya—menjamu setiap tamu yang datang ke rumahnya selama 3 hari. Ternyata kedatangan Salman ini di ketahui oleh Ali bin Abi Thalib, yang langsung mendakwahinya sebelum diambil orang lain. Hal ini kerana Ali, sebagai seorang da'i, sedang mencari pendukung dakwah Muhammad saw. Dengan motivasi yang kuat dan kesadaran tentang pen-tingnya meraih hati yang baru, maka beliau segera memanfaatkan peluang ini agar tidak lepas dari genggaman. Selanjutnya, Salman tinggal di rumah Ali bin Abi Thalib. Di tengah-tengah pelayanan yang diberikan Ali, Salman menangkap beberapa perilaku akhlak dan muamalah yang "aneh dan baru". Barangkali ini muncul dari sumber kenabian dan aliran agama baru. Lalu Ali bin Abi Thalib juga menangkap apa yang terlintas dalam benak Salman dan tanda-tanda respon serta kemantapannya.

Mata telah melihat, hati berbicara, perasaan berkobar, maka terjalinlah keterbukaan, terus terang, dan "jabat tangan". Dilanjutkan dengan pernyataan keislaman yang —di kemudian hari— menghantarkannya menjadi sahabat yang menorehkan tinta emas sejarah.

Sabtu, 13 Maret 2010

Mush'ab bin Umair r.a

Pada dirinya terdapat kemampuan dan sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang da'i, ditambah lagi dengan wajahnya yang tampan dan penampilannya yang menarik. Ia adalah duta pertama yang diutus Rasulullah saw. Kepada penduduk kota Madinah. Tatkala sampai di Madinah, ia singgah di rumah As'ad bin Zurarah. Sementara itu ada dua orang yang bernama Sa'adz bin Mu'adz dan Usaid bin Hudhair, keduanya adalah pemimpm suku Bam Abdil Asyhal dan penganut kepercayaan nenek moyang mereka.

Tatkala mendengar berita tentang Mush'ab bin Umair ra., Sa'ad berkata kepada Usaid, "Pergilah, temui orang yang telah memasuki wilayah kita dan mengelabui masyarakat kita yang lemah ltu. Usir keduanya dan jangan sekali-kali diperbolehkan mendatangi kaum kita. Kalau bukan karena keberadaan As'ad niscaya aku sudah pergi mendatangi mereka dan tidak menyuruhmu. Seperti yang kamu ketahui, ia (As'ad bin Zurarah) adalah anak bibiku."

Usaid mengambil tombaknya lalu pergi mendatangi keduanya. Tatkala As'ad mengetahui kedatangannya, ia berkata kepada Mush'ab, "Dia adalah seorang pemimpin suku dan telah mendatangimu, maka berlaku benar-lah kepada Allah." Mush'ab berkata, "Jika la mau duduk, maka saya akan berbicara kepadanya." Usaid masuk dan langsung mendamprat (pada saat itu masih dalam posisi berdiri), "Apa maksud kalian da-tang kapada kami dan mempu orang-orang yang lemah? Tinggalkanlah kami, jika kalian masih menyayangi nyawa kalian!"

Setelah selesai, Mush'ab berkata dengan sangat halus, :'Bagaimana jika Anda duduk terlebih dahulu dan men-iengarkan perkataan kami? Jika Anda suka maka ambilah, dan jika Anda tidak suka maka tinggalkanlah," Usaid ?erkata, "Anda berlaku adil." Kemudian ia meletakkan ;ombaknya dan duduk. Mush'ab lalu memberitahukan Ian menjelaskan kepadanya tentang Islam dan membaca-jan ayat-ayat Al-Qur'an. Keduanya mencentakan, "Demi Allah, kami sudah nelihat pada wajahnya pancaran cahaya Islam, sebelum a berkata dengan wajah yang lebih ceria." Kemudian Usaid berkata, "Alangkah mdahnya ajaran-ajaran ini. Apa yang kalian perbuat tatkala hen-dak memasuki agama ini?" Keduanya menjawab, "Mandilah dan bersihkan kedua pakaianmu. Kemudian ucap-kanlah syahadat dan setelah itu dirikanlah shalat."

Usaid kemudian bangkit untuk mandi dan member-sihkan pakaiannya, lalu mengucap syahadat dan dilan-jutkan dengan shalat dua rakaat. Kemudian ia berkata, "Ada seorang laki-laki, jika ia masuk Islam maka seluruh kaumnya akan mengikutinya. Saya akan menyuruhnya menghadap kalian. Orang itu bernama Sa'ad bin Mu'adz."

Usaid mengambil tombaknya dan beranjak pergi menemui Sa'ad dan kaumnya. Ketika menyaksikan kehadiran Usaid yang telah berubah dan saat Usaid sudah berada di hadapan mereka, Sa'ad bertanya, "Wa-hai Usaid, apa yang telah kamu perbuat?" Usaid berkata, "Saya telah bertemu dan berbicara dengan kedua orang itu dan ternyata mereka tidak membahayakan. Saya juga telah mencegah mereka. Lalu mereka berkata, 'Kami berbuat apa yang Anda sukai.' Saya telah mendengar berita bahwa Bani Haritsah telah berangkat menuju rumah As'ad bin Zurarah. Untuk membunuhnya dengan tujuan menghinakan dirimu, karena mereka tahu bahwa As'ad adalah anak bibimu." Dengan marah Sa'ad mengambil tombak dan berkata, "Wahai Usaid, Demi Tuhan, kamu belum berbuat apa-apa." Kemudian ia keluar menuju rumah As'ad bin Zurarah. Dan pada akhirnya apa yang terjadi pada Usaid terjadi pula pada Sa'ad bin Mu'adz.

Demikianlah tatkala Usaid datang dengan marah, Mush'ab justru menyambutnya dengan senyum dan ketenangan. Sikap imlah yang dapat melunakkan hati sekeras apa pun. Mush'ab adalah da'i yang membawa risalah yang amat agung dan suci. Oleh karena itu, dia sangat mengerti akan sikap yang tepat pada saat yang tepat pula. la tidak terpengaruh dengan kemarahan Usaid, tetapi justru sebaliknya, la berperilaku dengan akhlak yang mulia.

Kemudian, Mush'ab berkata dengan perkataan yang lemah lembut dan menggugah perasaan lawan bicaranya untuk kembali kepada fitrah dan keadilan, "Bagaimana jika Anda duduk dan mendengarkan perkataan saya? Jika Anda menyukai perkataan saya, maka ambillah dan jika Anda tidak menyukai, maka kami akan menjauhkan apa yang Anda benci itu dari diri Anda." Memang, tatkala menyampaikan dakwahnya, seorang da'i akan melihat dampak pada wajah mad'unya. Setelah masuk Islam, ia (Usaid in Hudhair) berubah dari mad'u menjadi seorang da'i. Lalu ia mencari cara agar Sa'ad mau menemui dan mau mendengarkan perkataan Mush'ab ra. seperti yang telah ia alami.

"Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya
sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri."

Dikatakan juga bahwa belum sempurna juga iman seseorang sebelum ia merasa bahagia jika hal yang ia sukai itu terjadi juga pada saudaranya. Akhirnya Sa'ad pun masuk Islam disertai katimnya, Bani Abdul Asyhal.

As'ad berkata kepada Mush'ab ra., tatkala melihat kedatangan Usaid, "Hai Mush'ab, ia adalah pemimpin suku maka berlaku jujurlah kepada Allah swt." Sungguh merupakan sebuah perkataan yang akan tetap langgeng, sebuah senjata dan sumber kekuatan bagi seorang da'i, "Berlaku jujurlah kepada Allah swt." Seorang da'I harus berlaku ikhlas hanya mencari ridha Allah swt., tidak untuk tujuan-tujuan selain Allah. Dengan ikhlas ltulah Allah akan berkenan membukakan pmtu hidayah- Nya. ltulah makna syiar kita: "Allah adalah tujuan kami".

Kisah yang terjadi pada Mush'ab ra. bersama Usaid dan Sa'ad memberikan banyak pelajaran yang berharga. Semua ini terjadi semata-mata atas hidayah (petunjuk) Allah 'Azzawajalla.

Pages

Daftar Blog Saya

  • BERFIKIRLAH SEBELUM BERBUAT MAKSIAT - Seorang laki-laki datang kepada Ibrahim bin Adham rahimahullah, Dia berkata: “Ya Aba Ishaq, aku sering berbuat maksiat. Katakan sesuatu kepadaku sebagai ...
    15 tahun yang lalu
  • - الحمد لله الذى أنزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيراً.. والصلاة والسلام على محمد بن عبد الله، الذى أرسله ربه شاهداً ومبشراً ونذيراً، وداعياً إلى الله...
    16 tahun yang lalu